Kamis, 31 Januari 2019

Jenis Morfem Bahasa Indonesia



1) Ditinjau dari Hubungannya
Pengklasifikasian morfem dari segi hubungannya, masih dapat kita lihat dari hubungan struktural dan hubungan posisi.
a) Ditinjau dari Hubungan Struktur
Menurut hubungan strukturnya, morfem dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu morfem bersifat aditif (tambahan) yang bersifat replasif (penggantian), dan yang bersifat substraktif (pengurangan). Morfem yang bersifat aditif yaitu morfem-morfem yang biasa yang pada umumnya terdapat pada semua bahasa, seperti pada urutan putra, tunggal, -nya, sakit. Unsur-unsur morfem tersebut tidak lain penambahan yang satu dengan yang lain. Morfem yang bersifat replasif yaitu morfem-morfem berubah bentuk atau berganti bentuk dari morfem asalnya. Perubahan bentuk itu mungkin disebabkan oleh perubahan waktu atau perubahan jumlah. Contoh morfem replasif ini terdapat dalam bahasa Inggris. Untuk menyatakan jamak, biasanya dipergunakan banyak alomorf. Bentuk-bentuk /fiyt/, /mays/, /mεn/ masing-masing merupakan dua morfem /f…t/, /m…s/, /m…n/ dan /iy ← u/, /ay← aw/, /ε/, /æ/. Bentuk-bentuk yang pertama dapat diartikan masing-masing ‗kaki‘, ‗tikus‘, dan ‗orang‘, sedangkan bentuk-bentuk yang kedua merupakan alomorf-alomorf jamak.
Bentuk-bentuk yang kedua inilah yang merupakan morfem-morfem atau lebih tepatnya alomorf-alomorf yang bersifat penggantian itu, karena /u/ diganti oleh /iy/ pada kata foot dan feet, /aw/ diganti oleh /ay/ pada kata mouse dan mice, dan /æ/ diganti oleh / ε/ pada kata man dan men.
Morfem bersifat substraktif, misalnya terdapat dalam bahasa Perancis. Dalam bahasa ini, terdapat bentuk ajektif yang dikenakan pada bentuk betina dan jantan secara ketatabahasaan. Perhatikanlah bentuk-bentuk berikut !

Betina
/mov εs/
/fos/
/bon/
/sod/
/ptit/
Jantan
/mov ε/
/fo/
/bo/
/so/
/pti/
Arti
buruk
palsu
baik
panas
kecil

Bentuk-bentuk yang ‗bersifat jantan‘ adalah ‗bentuk betina‘ yang dikurangi konsonan akhir. Jadi dapat dikatakan bahwa pengurangan konsonan akhir itu merupakan morfem jantan.
Berdasarkan pernyataan di atas, kita akan berpendapat bahwa untuk ―membetinakan morfem ―jantan bisa dilakukan dengan cara menambahkan morfem-morfem lain. Itu bisa saja, tetapi kita harus ingat bahwa morfem tersebut mempunyai bermacam-macam alomorf.
Jika diketahui bentuk jantannya, kita tidak dapat memastikan dengan tegas bentuk ―betinanya. Misal diketahui bentuk jantan / fraw / ‗ dingin ‗ kita tidak dapat secara tepat mematikan bahwa bentuk ‗‘ betinanya ― / frawd /. Berbeda jika bentuk betinanya yang diketahui, bentuk jantannya akan dapat dipastikandengan mudah yakni menghilangkan sebuah fonem akhir, Misalnya / gras / :gemuk: merupakan bentuk betina, maka jantannya patilah / gra /.
b) Ditinjau dari Hubungan Posisi
Dilihat dari hubungan posisinya, morfem pun dapat dibagi menjadi tiga macam yakni ; morfem yang bersifat urutan, sisipan, dan simultan. Tiga jenis morfem ini akan jelas bila diterangkan dengan memakai morfem-morfem imbuhan dan morfem lainnya.
Contoh morfem yang bersifat urutan terdapat pada kata berpakaian yaitu / ber-/+/-an/. Ketiga morfem itu bersifat berurutan yakni yang satu terdapat sesudah yang lainnya.
Contoh morfem yang bersifat sisipan dapat kita lihat dari kata / telunjuk/. Bentuk tunjuk merupakan bentuk kata bahasa Indonesia di samping telunjuk. Kalau diuraikan maka akan menjadi / t…unjuk/+/-e1-/.
Morfem simultan atau disebut pula morfem tidak langsung terdapat pada kata-kata seperti /k∂hujanan/. /k∂siaηgan/ dan sebagainya. Bentuk /k∂hujanan/ terdiri dari /k∂…an/ dan /hujan/, sedang /kesiangan/ terdiri dari /ke…an/ dan /siaη/. Bentuk /k∂-an/ dalam bahasa
Indonesia merupakan morfem simultan, terbukti karena bahasa Indonesia tidak mengenal bentuk /k∂hujan/ atau /hujanan/ maupun /k∂siaη/ atau /sianaη/. Morfem simultan itu serin disebut morfem kontinu ( discontinous morpheme ).

2) Ditinjau dari Distribusinya
Ditinjau dari distribusinya, morem dapat dibagi menjadi dua macam yaitu morfem bebas dan morem ikat. Morfem bebas ialah morfem yang dapat berdiri dalam tuturan biasa , atau morfem yang dapat berfungsi sebagai kata, misalnya : bunga, cinta, sawah, kerbau. Morfem ikat yaitu morfem yang tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan biasa, misalnya : di-, ke-, -i, se-, ke-an. Disamping itu ada bentuk lain seperti juang, gurau, yang selalu disertai oleh salah satu imbuhan baru dapat digunakan dalam komunikasi yang wajar. Samsuri (1982:188 )menamakan bentuk-bentuk seperti bunga, cinta, sawah, dan kerbau dengan istilah akar; bentuk-bentukseperti di-,ke-, -i, se-, ke-an dengan nama afiks atau imbuhan; dan juang, gurau dengan istilah pokok. Sementara itu Verhaar (1984:53) berturut-turut dengan istilah dasar afiks atau imbuhan dan akar. Selain itu ada satu bentuk lagi seperti belia, renta, siur yang masing-masing hanya mau melekat pada bentuk muda, tua, dan simpang, tidak bisa dilekatkan pada bentuk lain. Bentuk seperti itu dinamakan morfem unik. Dalam bahasa-bahasa tertentu, ada pula bentuk-bentuk biasanya sangat pende yang mempunyai fungsi ―memberikan fasilitas, yaitu melekatnya afiks atau bagi afiksasi selanjutnya. Contoh dalam bahasa Sansekerta, satuan /wad/ ‗menulis‘ tidak akan dibubuhi afiks apabila tidak didahului dengan pembubuhan satuan /a/ sehingga terjelma bentuk sekunder atau bentuk kedua yakni satuan /wada/ yang dapat yang dapat memperoleh akhiran seperti wadati, wadama. Bentuk /a/ seperti itu disebut pembentuk dasar.
Sehubungan dengan distribusinya, afiks atau imbuhan dapat pula dibagi menjadi imbuhan terbuka dan tertutup. Imbuhan terbuka yaitu imbuhan yang setelah melekat pada suatu benda masih dapat menerima kehadiran imbuhan lain. Sebagai contoh afiks /p∂r/ setelah dibubuhakn pada satuan /b∂sar/ menjadi perbesar /p∂rb∂sar/. Satuan /p∂rb∂sar/ masih menerima afiks lain seperti /di/ sehingga menjadi /dip∂rb∂sar/. Imbuhan /p∂r/ dinamakan imbuhan terbuka, karena masih dapat menerima kehadiran afiks /di/. Sedangkan yang dimaksud dengan imbuhan tertutup ialah imbuhan atau afiks yang setelah melekat pada suatu bentuk tidak dapat menerima kehadiran bentuk lain, misalnya afiks /di/ setelah melekat pada satuan /baca/ menjadi /dibaca/ tidak dapat menerima kehadiran afiks lainnya. Afiks /di/ itulah merupakan contoh afiks atau imbuhan tertutup.

Jenis morfem berdasarkan produktivitasnya
Bentuk-bentuk linguistic dapat dijeniskan atas dasar kemampuannya membentuk kata-kata. Biasanya hanya dibatasi pada morfem-morfem terikat. Khusunya afiks, dalam Bahasa Indonesia ada morfem afiks yang sangat produktif membentuk kata-kata baru, ada yang tak produktif, bahkan ada yang sedang cenderung produktif dan  sedang cenderung tak produktif. Misalnyamorfemafiks {ke-an} dapatmembentuk kata baru : keterlaluan, keadilan, dll
·                Afiks produktif adalah morfem afiks yang terus menerus mampu membentuk kata-kata baru
·                Afiks tak produktif adalah morfem afiks yang sudah  tidak mampu lagi membentuk kata-kata baru
Jenis morfem berdasarkan relasi antar unsurnya
Morfem-morfem segmental dalam Bahasa Indonesia, ada yang unsur-unsurnya merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam pemakaiannya, tetapi ada pula yang sebaliknya. Contoh dalam kalimat “ kesuksesan selalu didambakan setiap manusia yang ingin maju”. Kalimat itu terdiri atas delapan kata. Ada yang berdiri atas satu morfem (selalu, manusia, yang, ingin, maju) yang terdiri atas dua morfem (kesuksesan, setiap), dan yang terdiri  atas tiga morfem (didambakan). Dalam pemakaiannya, unsur-unsur (dalam hal ini berupa fonem-fonem) yang membentuk morfem “selalu, manusia, yang, ingin, maju, sukses, damba, se-, di-, dan –kan. Merupakan deretan morfem yang tak terpisahkan antara satu dengan yang lainnya.
·         Morfem utuh adalah morfem yang deretannya tidak terpisahkan
·         Morfem terbelah adalah morfem yang terpisah dalam pemakaiannya, seperti {ke-an}

Jenis morfem berdasarkan sumbernya
Berdasarkan sumbernya, morfem Bahasa Indonesia dapat dikelompokkan atas  mofem yang berasal dari Bahasa Indonesia asli, morfem yang berasal dari Bahasa daerah yang berada di wilayah Indonesia. Dan morfem yang berasal dari Bahasa asing.
-          Morfemafiks yang berasaldari Bahasa Indonesia asli dapat digolongkan menjadi empat kelompok, yaitu : {prefiks, infiks, sufiks, dankonfiks}
-          Yang tergolong prefix adalah {meN-}, {peN-}, dsb.
-          Yang tergolong infiks adalah {-el-},{-me}, dan {-er-}
-          Yang tergolong sufiks adalah {-an-}, {-kan} dan {-i}
-          Yang tergolong konfiks adalah { pe-an}, {ke-an}, {per-an}.
·         Morfem afiks seperti {ke-} dalam ketawa, {pra-} dalam prasangka, {-wan} dalam peragawan, {bi-} dalam bilingual, {non-} dalam nonpolitik, adalah morfem serapan yang dipakai dalam Bahasa Indonesia.

Jenis morfem berdasarkan jumlah fonem yang menjadi unsurnya
Dilihat dari jumlahnya, morfem-morfem itu ada yang berunsur satu fonem, tetapi ada juga yang berunsur lebih daru satu fonem.
-          Morfem yang berunsur satu fonem disebut MONOFONEMIS. Misalnya morfem {-i} dalam memtiki dan {a-} dalam amoral.
-          Morfem yang berunsur lebih dari satu fonem disebut POLIFONEMIS, misalnya {an-}, {di-}, {ke-}, [duafonem]. {ber-}, {meN-}, {di-}, {dua}, {itu}, {api}, [tigafonem]. {satu}, {daki}. Dll
-          Secara konkret, morfem yang monofonemis itu hannyalah morfemafiks, sedaangkan morfem-morfem yang berjenis lain belum ada yang monofonemis.

Jenis morfem berdasarkan keterbukaannya bergabung dengan morfem lain.
Dalam pemakaiannya morfem-morfem Bahasa Indonesia ada yang mempunyai kemungkinan bergabung dengan morfem lain, tetapi ada juga yang tidak.
Kata-kata benda yang dapat dipakai sebagai alat untuk melakukaan pekerjaan. Misalnya : paku, bajak, jarum dan tongkat. Mempunyai sifat keterbukaan yang berbeda. Kata pakudan bajak dapat dibentuk menjadi kontruksi yang lebih besar dengan membubuhkan afiks {meN-} dan {di-} sehingga menjadi memaku, dipaku, membajak dan dipajak. Akan tetapi, untuk membentuk konsep “melakukan pekerjaan dengan alat tongkat”, penutur Bahasa Indonesia belum pernah terdengar menggunakan kontruksi “menjarum dan menongkat”. Konsep itu hanya dapat menggunakan bentuk urai, misalnnya menjahit dengan jarum dan memukul dengan tongkat oleh  sebabitu, bentuk paku dan  bajak dikatakan sebagai BENTUK TERBUKA, sedangkan bentuk jarum dan tongkat dikatakan sebagai BENTUK TERTUTUP.



Jenis morfem berdasarkan bermakna tidaknya,
Atas dasar bermakna tidaknya morfem, ia bisa dikelompokkan kedalam dua kelompok, yaitu kelompok yang bermakna dan kelompok yang tidak bermakna.
-          Morfem kelompok bermakna : sesuai dengan namanya -selalubermakna- maknanya bisa dicari dalam  kamus-kamus umum. Contohnya : lapar, lapor, kuda, merah, dll.  Karena morfemnya langsung bermakna dan maknanya bisa diperiksa dalam kamus, bisa juga disebut morfem leksikal.
-          Morfem kelompok tidak bermakna : memang tidak punya makna (sendiri). Contohnya : {ter-}, {di-}, {pen}, {se-}, {-i}, {-an}, {-el} dll. Kelompo kini baru diketahui maknanya bila sudah berada dalam kontruksi yang lebih besar atau dikatakan melekat pada bentuk-bentuk dasar, bentuk dari kelompok pertama. Karena itulah, morfem-morfem ini disebut saja “Morfem gramatikal”.
(Chaer, 2015:16-25)
Daftar Pustaka
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesi (Pendekatan Proses). Jakarta: Rinika Cipta
Ramlan,M.2009.morfologi.Yogyakarta: CV Karyono
Alwi, Hasan.2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi ke III. Jakarta : Balai Pustaka

IDENTIFIKASI MORFEM


Morfem dengan Morf dan Alomorf
Morfem merupakan satuan gramatik terkecil baik bebas maupun ikat yang memiliki arti, baik secara leksikal maupun gramatikal. Banyak morfem yang hanya mempunyai satu struktur yakni jumlah maupun urutan fonemnya selalu tetap. Di lain pihak, banyak morfem yang mempunyai beberapa struktur fonologis, misalnya morfem peN- mempunyai struktur-struktur fonologis pe-, pem-, pen-, peng-, peny-, dan penge-, seperti terlihat pada kata-kata: pelari, pembimbing, pendengar, penguji, penyakit, dan pengecat.satuan-satuan pe-, pem-, peng-, peny-, dan penge- masingmasing disebut morf yang semuanya alomorf dari morfem peN- (Ramlan, 1983 : 27; Prawirasumantri, 1985 : 128; Ahmad slamet, 1983 : 27; Keraf, 1983 : 51). Jadi dapatlah dikatakan bahwa morfem peN- mempunyai morf-morf pe-, pem-, pen-, peng-, peny-, dan penge- sebagai alomorfnya.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa alomorf itu merupakan variasi bentuk suatu morfem. Keraf (1982 : 51) mengatakan bahwa variasi itu disebabkan oleh pengaruh lingkungan yang dimasukinya. Maksudnya, bergantung kepada jenis fonem awal sebuah satuan yang dilekati oleh morfem tersebut. Perubahan /N/ itu harus homogen. Sebagai contoh /N/ akan menjadi /m/ apabila dilekatkan pada bentuk dasar yang diawali fonem /b/. fonem /m/ dan /b/ sama-sama bunyi bilabial. Sedangkan yang dimaksud dengan morf adalah wujud kongkret dari alomorf itu sendiri.

Morfem dengan Kata
Perhatikanlah satuan-satuan gramatik berikut ini !
1) tanda
2) menandai
3) tanda tangan
4) dari Bandung
Satuan tanda merupakan sebuah bentuk bebas karena tidak dapat dibagi menjadi satuan-satuan bebas lainnya. Satuan menandai tidak dapat dibagi menjadi bentuk bebas. Tetapi perhatikan bentuk atau satuan tanda tangan dapat dibagi menjadi dua satuan yakni tanda dan tangan. Namun kalau diteliti lebih jauh, sebenarnya satuan tanda tangan memiliki satu kesatuan yang utuh atau padu. Dengan perkataan lain, tanda tangan memiliki sifat sebuah kata yang membedakan dirinya dari frase (Ramlan, 1983 : 28; Prawirasumantri, 1985 : 129). Bentuk-bentuk atau satuan-satuan yang setipe itu tidak mungkin dipisahkan atau dibalikkan menjadi tangan tanda atau dipisahkan satuan lain tanda itu tangan. Bentuk atau satuan sepeti itu dalam hubungannya keluar selalu merupakan satu kesatuan dari. Satuan itu bukan merupakan bentuk bebas seperti contoh lainnya di, ke, daripada- tetapi secara gramatis memiliki sifat bebas. Satuan-satuan seperti contoh di atas dari nomor 1 sampai dengan 4 disebut kata.
Berdasarkan penjelasan di atas, nyatalah bahwa kata dapat terdiri atas satu morfem atau lebih. Kata-kata seperti: duduk, makan, tidur, meja masing-masing terdiri atas sebuah morfem, sedangkan penduduk, makanan, meja makan, kaki tangan masing-masing terdiri atas dua buah morfem. Kata-kata yang terdiri atas satu morfem disebut kata bermorfem tunggal atau kata monomorfemis (monomorphemic word) dan kata-kata yang terdiri atas dua morfem atau lebih disebut kata bermorfem jamak atau kata polimorfemis (polymorphemic word) (Verhaar, 1984 : 54).
Dari paparan di atas dapatlah ditarik suatu cirri kata. Cirri kata pada dasrnya mencakup dua hal yaitu: (1) kata merupakan suatu kesatuan penuh dan komplit dalam sebuah ujaran bahasa, dan (2) kata dapat ditersendirikan yakni bahwa sebuah kata dalam kalimat dapat dipisahkan dari yang lain dan dapat dipindahkan (Parera, 1980 : 10).
Berdasarkan kriteria tertentu, kita dapat mengklasifikasikan morfem menjadi berjenis-jenis. Penjenisan ini dapat ditinjau dari dua segi yakni hubungannya dan distribusinya (Samsuri, 1982:186; Prawirasumantri, 1985:139). Agar lebih jelas, berikut ini sariannya.

Jenis Morfem
Morfem dibagi menjadi dua macam yaitu morfem bebas dan morfem terikat. (Arifin, E, Zaenal, 2011:3)
·         Jenis-jenis morfem
ü  Berdasarkan kebahasaannya
            Morfem bebas adalah morfem yang dapat berdiri sendiri. Misalnya : jual, beli, duduk, dan tidur.
   Morfem terikat adalah kebalikan dari morfem bebas. Di bagi menjadi dua , morfem teriakat dasar dan afiks. Morfem ini tidak berfungsi tanpa terikatan dengan morfem lain. Misalnya : juang dan henti.
Morfem afiks diantaranya :
-          Prefix : ber-, me-, per-, di-, ter-, se-, ke- (dibutuhkan dikiri, contohnya {ber-}+main = bermain ).
-          Infiks : {-el-},{-em-},{-er}(dibubuhkan di tengah contohnya : kemuning)
-          Sufiks : -kan, l, an, nya / imbuhan akhir (dibubuhkan dikanan, contohnya: pemeran)
-          Konfiks : ke-an, ber-an, pe-an, per-an, se-nya (dibubuhkan dikiri dan dikanan, contohnya: kependudukan)
-          Berklofiks : dibubuhkan dikiri dan dikanan me-I, me-kan contohnya : memilihkan
ü  Berdasarkan kebutuhan bentuk
-          Morfem utuh ialah morfem yang bagian-bagian pembentuknya bersambungan. Misalnya: ter-,per-,pohon,lihat,pun
-          Morfem terbagi ialah morfem yang bagian-bagian pembentuknya tidak bersambungan. Misalnya: ke-an dalam kemanusiaan, bukan merupakan penjumlahan dua morfem ke- dan an, tapi satu morfem saja.

·           Morfem dasar, bentuk dasar, pangkal dan akar.
-       Morfem dasar biasnya digunakan sebagai dikotomi dengan morfem afiks. Yang termaksud morfem dasar adalah morfem dasar dan terikat. Sebuah morfem dasar dapat menjadi bentuk dasar dalam satu proses morfologi.
-       Bentuk dasar (base) biasanya digunakan untuk menyebut sebuah bentuk yang menjadi dasar dalam suatu proses morfologi. Contohnya : {ber} dan morfem {cermin}, maka morfem {cermin} adalah morfem dasar
-       Pangkal (stem) adalah istilah yang digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses pembentukan kata infektif atau pembubuhan afiks infektif. Contohnya kata membuat pangkalannya adalah buat.
-       Akar atau root adalah istilah yang digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi. Artinya akar adalah bentuk yang tersisa setelah afiknya ditinggalkan. Contohnya memperlakukan setelah semua afiks ditinggalkan (yaitu prefix me-, prefik ber- dan Sufiks kan-) maka yang tersisa adalah akar laku. Akar laku ini tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi. (Chaer, 2015:15)
-       Leksem : untuk mewadahi bentuk yang dapat menjadi kata melalui morfologi, contoh: pukul, ditandai dengan huruf capital
-       Leksem yang menurunkan kata-kata, memukul,dipukul,pukulan,pemukul,pemukulan.
·           Berdasarkan jenis fonem
-       Morfem seksmental, morfem yang berupa bunyi yang dapat di seksmentalkan
-       Morfem supraseksmental, fonem yang terbentuk dari tekanan durasi dan informasi tidak ditemukan dalam Bahasa Indonesia
·           Berdasarkan ciri simantik
-       Leksikal, secara inheren/pelengkap telah memiliki makna. Makan
-       Tak leksikal, afiks- ter-ber, morfem afiks bentuk terikat yang mengubah makna gramatikal
-       Prefiks, imbuan awal sebelum kata dasar- ber-me
-       Infiks, sisipan ditengah kata – contoh – kata seruling- er
-       Sufiks, akhiran yang ditambahkan setelah kata dasar – lemparkan- kan
-       Konfiks, gabungan prefiks dan sufiks – ke dan an
-       Berklofiks, kata yang dibubuhi afiks, tidak bisa ditumbuhkan secara bersamaan tetapi secara bertahap-tahap – memperjelas – mem per
-       Simulfiks, afiks yang tidak hadir secara tersendiri- ngopi-kopi-N-Prefiks (Chaer, 2015: 46)




Daftar Pustaka
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesi (Pendekatan Proses). Jakarta: Rinika Cipta
Ramlan,M.2009.morfologi.Yogyakarta: CV Karyono
Alwi,Hasan.2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi ke III. Jakarta: Balai pustaka
Arifin, E, Zainal. 2011. Morfologi : Bentuk, Makna, dan Fungsi. Jakarta: Gramedia.

Kaitan Morfologi dengan Ilmu Kebahasaan Lain Beserta Unsur Kata



Morfologi merupakan ilmu yang memiliki keterkaitan dengan disiplin ilmu lain, yang masih berada pada ruang lingkup kajian linguistik. Keterkaitan tersebut terlihat pada bagan berikut
  






Morfologi dengan Leksikologi
Kata kosong mempunyai berbagai makna dalam pemakaiannya, antara lain :
1) Tidak ada isinya; misalnya: peti besinya telah kosong.
2) Hampa, berongga (geronggang) di dalamnya; misalnya: tinggal butir-butir padi yang kosong.
3) Tidak ada yang menempati; misalnya: rumah itu kosong.
4) Terluang; misalnya: waktu kosong.
5) Tidak mengandung sesuatu yang penting atau berharga; misalnya: perkataannya kosong. (Poerwadarminta, 1985 : 524).
Selain itu, ada pula kata-kata mengosongkan ‗menjadikan kosong‘, pengosongan ‘perbuatan mengosongkan‘, kekosongan ‗keadaan kosong‘ atau ‗menderita sesuatu karena kosong‘. Morfologi dan Leksikologi sama-sama mempelajari kata, ari kata, akan tetapi si antara keduanya terdapat perbedaan. Leksikologi mempelajari arti yang lebih kurang tetap yang terkandung dalam kata atau yang lazim disebut arti leksis atau makna leksikal, sedangkan morfologi mempelajari arti yang timbul akibat peristiwa gramatis yang biasa disebut arti gramatis atau makna gramatikal. Sebagai contoh kita bandingkan kata kosong dengan mengosongkan. Kedua kata itu masing-masing mepunyai arti leksis atau makna leksikal. Kosong antara lain artinya ada lima butir seperti yang tertera pada contoh di atas, sedangkan mengosongkan makna atau artinya ‗menjadikan atau membuat jadi kosong‘. Mengenai arti leksis kedua kata tersebut dibicarakan dalam leksikologi, sedangkan dalam morfologi dibicarakan makna atau arti yang timbul akibat melekatnya imbuhan atau afiks meN-kan.

Morfologi dengan Etimologi
Dalam penyelidikan makna, morfologi berdekatan dengan leksikologi, sedangka dalam penyelidikan bentuk, morfologi berdekatan dengan etimologi, yakni ilmu yang menyelidiki seluk-beluk asal-usul kata secara khusus (Ramlan 1978 dalam Prawirasumantri, 1985 : 109).
Walau morfologi dan etimologi mempelajari masalah yang sama yakni perubahan bentuk, namun ada perbedaannya. Morfologi mempelajari perubahan kata yang disebabkan atau yang terjadi akibat sistem bahasa secara umum. Sebagai contoh, dari kata pakai terbentuk kata-kata baru pakaian, memakai, dipakai, terpakai, berpakaian. Perubahanperubahan itu disebabkan oleh sistem bahasa yaitu sistem afiksasi atau pembubuhan afiks. Gejala itulah yang dipelajari oleh morfologi. Namun perhatikanlah contoh-contoh berikut: kenan di samping berkenan; ia di samping dia, yang, dan nya dan tuan di samping tuhan. Perubahan-perubahan tersebut bukan bersifat umum atau bukan akibat sistem bahasa Indonesia. Perubahan tersebut hanya terjadi untuk kata-kata tersebut, tidak berlaku untuk kata-kata lain. Perubahan-perubahan itu bukan dipelajari oleh morfologi atau ilmu asal-usul kata.

Morfologi dengan Sintaksis
Satu lagi cabang ilmu bahasa yang berdekatan dengan morfologi yaitu sintaksis. Kata sintaksis berasal dari bahasa Yunani sun ―dengan‖ dan tattien ―menempatkan‖. Dengan jelas, menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat dan kelompokkelompok kata menjadi kalimat (Verhaar, 1985 : 70).
Bidang sintaksis menyelidiki semua hubungan antarkata dan antarkelompok kata dalam kalimat. Di lain pihak, morfologi mempelajari seluk-beluk kata itu sendiri secara mandiri tanpa memperhatikan hubungannya dalam kalimat. Tegasnya dapat dikatakan bahwa unsur yang paling kecil yang dipelajari oleh morfologi ialah morfem dan yang paling besar ialah kata, sedangkan sintaksis mempelajari unsur yang paling kecil ialah kata dan yang terbesar kalimat (Prawirasumanttri, 1985 : 110).
Ramlan (1980 : 5) memberikan contoh untuk membedakan bidang garapan morfologi dan sintaksis dalam kalimat, ―Ia mengadakan perjalanan.‖ Jika kita membicarakan ia sebagai bentuk tunggal, mengadakan dan perjalanan sebagai bentuk kompleks, termasuk garapan bidang morfologi, tetapi jika pembicaraan mengenai ia sebagai subjek, mengadakan sebagai predikat dengan kata perjalanan sebagai objek termasuk garapan sintaksis.

Morfologi dengan Fonologi
Keterkaitan morfologi denan fonologi yang diberi istilah morfofonemik. Secara koseptual, morfofonemik merupakan kaidah Bloomfeield (1933) sebagaimana diintisarikan oleh Lass (2011 :70-72) mengemukakan bahwa secara terminology morfofonemik merujuk pada kaidah – kaidah mutasi: a) satu bunyi dengan yang lainnya; b) proses perubahan bunyi sebagai akibat bertemunya dua unsure bahasa pembentuk sebuah kata; c) adanya hubungan khusus antara dua fonem atau lebih, karena hubungan itu sebagian tergantung kepada, atau dapat diperkirakan. Chaer (2008:43) menjelaskan bahwa morfofonemik adlah suatu kajian disejajarkan secara konseptual dengan terminologi morfonologi atau morfofonologi.



Morfologi dan Pragmatik
Pragmatik merupakan kajian yang mempersoalkan maksud dan makna dibalik ujaran atau teks.
Contoh :
P1        : Bagaimana mewujudkan ketahanan pangan nasional?
P2        : Perlu ada langkah inovasi teknologi. Inovasi dilakukan dalam upaya meningkatkan produktivitas pertanian dengan cara mengembalikan daya dukung lahan dan mengeliminasi penggunaan sarana pertanian sintetis, seperti pupuk kimia dan pestisida kimia. (Suswono, 2012 : 14).
Pertanyaan yang diberikan P1 kepada P2 menunjukan bahwa ketahanan pangan nasional dari aspek teknologi belum memadai sehingga hasil panen menurun.
Morfologi tidaj mempersoalkan maksud ujaran tetapu mempersolakan pembentukan kata dan makna seperti : inovasi teknologi, dilakukan, meningkatkan, produktivitas pertanian, mengembalikan, daya dukung lahan, mengeliminasi, penggunaan, pertanian sintesis, pupuk kimia, pestisida kimia.

Konstruksi Morfologis
Konstruksi morfologis ialah konstruksi formatif-formatif dalam kata (Kridalaksana, 1983:92), maksudnya bentukan atau satuan kata yang mungkin merupakan morfem tunggal atau gabungan morfem yang satu dengan yang lain. Bentuk atau satuan yang berupa morfem tunggal disebut konstruksi sederhana, sedangkan bentuk atau satuan yang terdiri atas beberapa morfem disebut konstruksi rumit (Samsuri, 1982:195). Selanjutnya, Samsuri (1982:195) mengklasifikasikan konstruksi sederhana menjadi dua macam yaitu akar (istilah Ramlan bentuk atau satuan tunggal bebas yang sekaligus merupakan kata); satuan berwujud kecil yang secara morfologis berdiri sendiri, namun secara fonologis bisa mendahului atau mengikuti morfem-morfem lain dengan eratnya yang lazim disebut klitik. Akan sering pula disebut kata morfem. Sedangkan klitik sendiri dapat kita bedakan menjadi proklitik dan enklitik.
Konstruksi rumit merupakan hasil proses penggabungan dua morfem atau lebih. Konstruksi rumit bisa bisa berupa gabungan antara pokok + afiks, seperti ber- + juang pada berjuang; antara akar (ada pula yang menyebutnya dasar atau morfem bebas) + afiks, seperti makan + -an pada makanan; antara pokok kata + akar, seperti semangat + juang pada semangat juang; pokok kata + pokok kata, seperti gelak + tawa pada gelak tawa; dan antara akar + akar, seperti meja + makan pada meja makan.

1.       Derivasi dan Infleksi
Derivasi adalah suatu proses perubahan kelas kata denganpemindahan kelas kata. Perubaha kata kerja mendengar menjadi mendengarkan atau melihat menjadi perlihatkan adala derivasi tanpa mengubah kelas kata.
Kata-kata itu masih berada dalam kelas kata kerja, tetapi identitsa leksikalnya atau maknanya sudah berubah. Disamping itu ada juga derivasi yang mengubah kelas pendengar menjadi pendengaran, melihat menjadi penglihatan dan sebagainya.
Derivasi dapat dilihat dari berbagai jenis yaitu antara lain sebagai berikut.
a) Derivasi Internal
Derivasi internal adalah proses mengubah verba tanpa mengubah kelas katanya, namun identitas leksikalnya berubah. Bentuk yang baru ini dapat mengalami infleksi seperti bentuk asalnya, misalnya:
membuat " membuatkan
melihat " memperlihatkan
melompat " melompatkan, melompati
menyerah " menyerahkan, menyerah
b) Derivasi Adverbal
Derivasi adverbal adalah proses perubahan kelas kata kerja menjadi kelas-kelas kata lain yaitu kata benda, kata sifat, atau kata tugas sebagai berikut:
1. Nomina Deverbal
Pemindahan kelas kata kerja ke kata benda dapat dilakukan dengan mempergunakan morfem-morfem terikat. Proses ini sangat produktif dalam bahasa Indonesia.
Contohnya:
Menyanyi " penyanyi, nyanyian
Mendengar " pendengar, pendengaran, kedengaran
Berjalan " pejalan, perjalanan, jalanan
menjual " penjual, jualan, penjualan
membaca " pembaca, pembacaan, bacaan

2. Adjektif deverbal
Dalam beberapa kasus dan beberapa kata kerja yang sebenarnya merupakan derivasi dari kata sifat yang dapat ditransposisiskan lagi ke dalam kata sifat. Dalam status kata sifat tersebut dapat diperluas dengan unsur-unsur yang biasa dikenakan pada kata sifat.
Contohnya:
Ia menyenangkan kami dengan sebuah atraksi.
Setiap proses morfologis, sebuah afiks akan termasuk infleksi kalau di dalam suatu paradigma dapat diramalkan untuk menggantikan afiks infleksi lainnya. Dengan demikian, juga terdapat keteraturan makna gramatikal di dalam paradigma infleksi . Ciri ciri yang demikian tidak terdapat pada paradigma yang derivasi.

Derivasi ialah konstruksi yang berbeda distribusinya daripada dasarnya, sedangkan infleksi ialah konstruksi yang menduduki distribusi yang sama dengan bentuk dasarnya (Samsuri, 1982:198; Prawirasumantri, 1986:18). Kita ambil contoh kata menggunting, makanan, dan mendengarkan. Perbedaannya akan terlihat pada kalimat-kalimat berikut.
1)      a. Anak itu menggunting kain.
b. Anak itu gunting rambut. *)
2)      a. Makanan itu sudah basi.
b. Makan itu sudah basi. *)
3)      a. Kami mendengar suara itu.
         b. Kami dengar suara itu.
4)     a. Saya membaca buku itu.
        b. Saya baca buku itu.
Berdasarkan empat contoh di atas, kita dapat menarik suatu kesimpulan bahwa konstruksi menggunting dan makanan tidak sama distribusinya dengan gunting dan makan. Itu sebabnya kalimat 1b dan 2b tidak ada dalam bahasa Indonesia. Di lain pihak, konstruksi mendengar dan membaca sama dengan konstruksi dengar dan baca. Oleh karena itu, kita dapat mempergunakan kalimat 3a atau 3b dan 4a dan 4b. konstruksi menggunting dan makanan merupakan contoh derivasi, sedangkan konstruksi mendengar dan membaca contoh infleksi.

2.       Endosentris dan Eksosentris
Endosentris ialah konstruksi morfologis yang salah satu atau semua unsurnya mempunyai distribusi yang sama dengan konstruksi tersebut, sedangkan konstruksi eksosentris ialah unsur-unsurnya tidak sama dengan konstruksi tersebut (Samsuri, 181:200; Prawirasumantri, 1986:19). Endosentris dan eksosentris dalam tatanan morfologi terdapat pada kata majemuk sedangkan dalam tatanan sintaksis terdapat pada frase. Agar pengertian endosentris dan eksosentris lebih terpahami perhatikan contoh berikut !
1.    a. Rumah sakit itu baru dibangun.
b. Rumah itu baru dibangun.
2.    a. Mereka mengadakan jual beli.
b. Mereka mengadakan jual. *)
c. Mereka mengadakan beli. *)
Dengan mengadakan perbandingan kalimat 1a dan 1b, kita dapat menyimpulkan bahwa konstruksi rumah sakit mempunyai distribusi yang sama dengan dengan salah satu unsurnya, yaitu rumah. Pada kalimat 2a ada konstruksi jual beli. Kedua unsurnya yakni jual dan beli tidak memilki distribusi yang sama. Hal itu terbukti bahwa kalimat 2b dan 2c bukan merupakan kalimat bahasa Indonesia. Kita tidak akan menemukan dua kalimat seperti itu. Konstruksi rumah sakit merupakan contoh endosentris, sedangkan konstruksi jual beli merupakan contoh eksosentris.

DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesi (Pendekatan Proses). Jakarta: Rinika Cipta
Arifin, E, Zainal. 2011. Morfologi : Bentuk, Makna, dan Fungsi. Jakarta: Gramedia.
Muslich, Mansur. 2011. Tata bentuk Bahasa Indonesia. Jakarta : Bumi Aksara



Bentuk Linguistik, Hakikat Morfologi dan Objek Kajian Morfologi


Bentuk Linguistik, Hakikat Morfologi dan Objek Kajian Morfologi

Bentuk Linguistik secara hierarkis terdiri atas beberapa tataran kajian, susunan yang bersifat hierarkis itu dapat diilustrasikan dalam skema berikut.


Berdasarkan skema di atas menunjukkan bahwa linguistik secara umum berarti ilmu yang mempelajari bahasa, dengan beberapa subsistem yaitu tata bahasa merupakan subsistem dalam linguistic yang terdiri atas dua kategori subsistem yaitu subsistem morfologi dan sintaksis. Secara garis besar morfologi menelaah seluk beluk kata, dengan objek kajian terbesarnya adalah kata, sedangkan sintaksis mempelajari seluk beluk rangkaian kata, frase, klausa dan kalimat, dengan objek telaah terbesarnya adalah kalimat. Selain itu, morfologi juga berkaitan erat dengan fonologi, dimana diantara kedua subsistem tersebut terdapat kajian ilmu yang mengkaji tentang perubahan fonem akibat adanya proses morfologi (morfofonemik).

HAKIKAT MORFOLOGI
Secara etimologi kata morfologi berasal dari kata morf yang berarti bentuk dan kata logi yang berarti ilmu. Jadi, secara harfiah kata morfologi berarti ilmu mengenai bentuk. Di dalam kajian linguistik, morfologi berarti cabang ilmu bahasa yang seluk-beluk bentuk kata dan perubahannya serta dampak dari perubahan itu terhadap arti (makna) dan kelas kata.
Menurut Ramlan pengertian morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang mempelajari seluk beluk bentuk kata serta perubahan bentuk kata serta perubahan bentuk kata terhadap arti dan golongan kata.
Menurut Verhaar (1996:97) morfologi merupakan cabang linguistic yang mengidentifikasi satuan – satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal.
Menurut Samsuri (1988:15) morfologi merupakan cabang linguistic yang mempelajari tentang struktur dan bentuk -  bentuk kata.
Menurut Bauer (1993:2) morfologi merupakan ilmu yang membahas struktur internal bentuk kata.
Berdasarkan pengertian di atas dapat dikatakan bahwa morfologi merupakan ilmu bahasa yang mempelajari struktur kata.


Objek Kajian morfologi
Objek kajian morfologi terdiri atas morfem, kata, bentuk dasar, alat dalam proses (afiks, duplikasi, akronimisassi, dan konvensi) serta makna gramatikal. Kita sudah tahu, bahwa morfem merupakan satuan yang paling kecil yang dapat dipelajari oleh morfologi. Namun, apa yang dimaksud dengan morfem belum dijelaskan. Inilah pengertiannya.
1) Morfem ialah satuan gramatik yang paling kecil yang tidak mempunyai satuan lain selain unsurnya (Ramlan, 1983 : 26).
2) Morfem ialah satuan bentuk terkecil yang mempunyai arti (Alwasilah, 1983 : 10).
3) Morfem ialah kesatuan gramatik yang terkecil yang mengandung arti, yang tidak mempunyai kesamaan baik dalam bentuk maupun dalam arti dengan bentuk-bentuk yang lain (Sitindoan, 1984 : 64).
4) Morfem yaitu semua bentuk baik bebas maupun terikat yang tidak dapat dibagi ke dalam bentuk terkecil yang mengandung arti (Bloch dan Trager dalam Prawirasumantri, 1985 : 127).
5) Morfem adalah komposit bentuk pengertian yang terkecil yang sama atau mirip yang berulang (Samsuri, 1982 : 170). Yang dimaksud berulang disini yaitu kehadirannya berkalikali dalam tuturan.
6) Bloomfield (1933 : 161) mendefinisikan morfwem sebagai ― a linguistic from wich bears no partial phonetic-semantic resemblance to any other form, is a simple form or morpheme. (Maksud pernyataan itu, ―satu bentuk lingual yang sebagiannya tidak mirip dengan bentuk lain mana pun secara bunyi maupun arti adalah bentuk tunggal atau morfem).
7) Morphemes are the smallest individually meaningfull element is the utterances of a language (Hockett, 1958 : 123). Maksudnya, morfem adalah unsur-unsur yang masingmasing mempunyai makna dalam tutur sebuah bahasa.
Dari ketujuh definisi yang telah dikutip di atas, tergambar adanya persamaan konsep. Pada
dasarnya, morfem merupakan satuan gramatik terkecil baik bebas maupun ikat yang memiliki arti, baik secara leksikal maupun gramatikal.

Kata merupakan satuan gramatikal
Komponen pembentuk kata
1.       Dasar (leksikal) :
Bentuk dasar ialah bentuk yang kepadanya dilakukan proses morfologi itu. Bentuk dasar itu dapat berupa akar seperti baca, pahat, dan juang.(Chaer 2008:26) jadi dasar itu bentuk terkecil yang tidak bisa dipilah kembali.
2.       Alat Pembentuk ( afiks, duplikasi, komposisi, akronimisasi, dan konversi)
Dalam proses afiksasi sebuah afiks diimbuhkan pada bentuk dasar sehingga hasilnya menjadi sebuah kata. Umpamanya pada dasar baca diimbuhkan afiks me- sehingga menghasilkan kata membaca yaitu sebuah verba transitif aktif, pada dasar juang diimbuhkan afiks ber- sehingga menghasilkan verba intransitif berjuang. (Chaer 2008:27)
Alat pembentuk kedua adalah pengulangan bentuk dasar yang digunakan dalam proses reduplikasi ini lazim disebut dengan istilah kata ulang. Secara umum dikenal dengan 3 macam pengulangan yaitu pengulangan secara utuh , pengulangan dengan pengubahan bunyi vocal maupun konsonan, dan pengulangan sebagian. (Chaer 2008:28)
Alat pembentuk ketiga adalah penggabungan sebuah bentuk pada dasar yang ada dalam proses komposisi. Penggabungan ini juga menrupakan alat yang banyak digunakan dalam pembentukan kata karena banyaknya konsep yang belum ada wadahnya dalam bentuk sebuah kata. Misalnya bahasa indonesia hanya punya sebuah kata untuk berbagai macam warna merah. Oleh karena itulah dibentuk gabungan kata seperti merah jambu, merah darah, dan merah bata. ( Chaer 2008:28)
Alat pembentuk keempat adalah abreviasi khusus yang digunakan dalam proses akronomisasi. Disebut abreviasi khusus karena semua abreviasi menghasilkan akronim. Abreviasi dari bentuk Sekolah Menengah Atas menjadi SMA adalah bukan akronim tetapi hasil abreviasi dari Jakarta Bogor Ciawi menjadi Jagorawi adalah akronim (Chaer 2008:28)
Alat kelima dalam pembentukan kata adalah pengubahan status dalam proses yang disebut konversi. Misalnya, benruk gunting yang berstatus verba, seperti dalam kalimat “gunting dulu baik-baik nanti baru dilem” (Chaer 2008:28)

daftar pustaka
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta.